Tuesday, November 3, 2009

Waktu adalah pahala


“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-hadid: 16)

Maha Suci Allah yang menggantikan malam dengan siang dan sore pun menyongsong malam. Hari berlalu menyusun pekan. Hitungan bulan-bulan pun membentuk tahun. Tanpa terasa, pintu ajal kian menjelang. Sementara, peluang hidup tak ada siaran ulang.

Siap atau tidak, waktu pasti akan meninggalkan kita

Sejauh apa pun satu tahun ke depan jauh lebih dekat daripada satu detik yang lalu. Karena waktu yang berlalu, walaupun satu detik, tidak akan bisa dimanfaatkan lagi. Ia sudah jauh meninggalkan kita.

Begitu pun dengan berbagai kesempatan yang kita miliki. Pagi ini adalah pagi ini. Kalau datang siang, ia tidak akan pernah kembali. Kalau kesempatan di pagi ini lewat, hilang sudah momentum yang bisa diambil. Karena, belum tentu kita bisa berjumpa dengan pagi esok.


Itulah yang pernah menggugah Umar bin Abdul Aziz. Suatu malam, karena sangat lelah, Umar menolak kunjungan seorang warga. “Esok pagi saja!” ucapnya spontan. Khalifah Umar berharap esok pagi ia bisa lebih segar sehingga urusan bisa diselesaikan dengan baik.

Tapi, sebuah ucapan tak terduga tiba-tiba menyentak kesadaran Khalifah kelima ini. Warga itu mengatakan, “Wahai Umar, apakah kamu yakin akan tetap hidup esok pagi?” Deg. Umar pun langsung beristighfar. Saat itu juga, ia menerima kunjungan warga itu.

Kalau kita menganggap remeh sebuah ruang waktu, sebenarnya kita sedang membuang sebuah kesempatan. Kalau pergi, kesempatan tidak akan kembali. Ia akan pergi bersama berlalunya waktu. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (Al-Ashr: 1-2)

Siap atau tidak, jatah waktu kita terus berkurang

Ketika seseorang sedang merayakan hari ulang tahun, sebenarnya ia sedang merayakan berkurangnya jatah usia. Umurnya sudah berkurang satu tahun. Atau, hari kematiannya lebih dekat satu tahun. Dalam skala yang lebih luas, pergantian tahun adalah berarti berkurangnya umur dunia. Atau, hari kiamat lebih dekat satu tahun dibanding tahun lalu.

Ketika jatah-jatah waktu itu terus berkurang, peluang kita semakin sedikit. Biasanya, penyesalan datang belakangan. “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (Al-Fajr: 23-24)

Tak banyak yang sadar, begitu banyak peluang menghilang

Kadang, seseorang menganggap biasa mengisi hari-hari dengan santai, televisi, dan berbagai mainan. Bahkan ada yang bisa berjam-jam bersibuk-sibuk dengan video game. Sedikit pun tak muncul rasa kehilangan. Apalagi penyesalan.

Padahal kalau dihitung, amal kita akan terlihat sedikit jika dibanding dengan kesibukan rutin lain. Dengan usia tiga puluh tahun, misalnya. Selama itu, jika tiap hari seorang tidur delapan jam, ternyata ia sudah tidur selama 87.600 jam. Ini sama dengan 3.650 hari, atau selama sepuluh tahun. Dengan kata lain, selama tiga puluh tahun hidup, sepertiganya cuma habis buat tidur.

Jika orang itu menghabiskan empat jam buat nonton televisi, setidaknya, ia sudah menonton televisi selama 43.200 jam. Itu sama dengan 1.800 hari, atau lima tahun. Bayangkan, dari tiga puluh tahun hidup, lima tahun cuma habis buat nonton teve. Belum lagi urusan-urusan lain. Bisa ngobrol, curhat, ngerumpi, jalan-jalan, dan sebagainya.

Lalu, berapa banyak porsi waktunya buat ibadah? Kalau satu salat wajib menghabiskan waktu sepuluh menit, satu hari ia salat selama lima puluh menit. Ditambah zikir dan tilawah selama tiga puluh menit, ia beribadah selama delapan puluh menit per hari. Jika dikurangi sepuluh tahun karena usia kanak-kanak, ia baru beribadah selama 1.600 jam. Atau, 1,8 persen dari waktu tidur. Atau, 3,7 persen dari lama nonton teve.

Betapa banyak peluang yang terbuang. Betapa banyak waktu berlalu tanpa nilai. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran.” (Al-Ashr: 1-3)

Tak seorang pun tahu, kapan waktunya berakhir

Tiap yang bernyawa pasti mati. Termasuk, manusia. Kalau dirata-rata, usia manusia saat ini tidak lebih dari enam puluhan tahun. Atau, setara dengan dua belas kali pemilu di Indonesia. Waktu yang begitu sedikit.

Saatnya buat orang-orang beriman memaknai waktu. Biarlah orang mengatakan waktu adalah uang. Orang beriman akan bilang, “Waktu adalah pahala!”

Oleh Muhammad Nuh
Sumber: Dakwatuna

Saturday, October 24, 2009

Tiada lagi istilah putus asa



Doa hendaklah dibaca dengan perasaan penuh rendah diri di hadapan Allah SWT.

SABAN hari umat Islam di seluruh pelosok dunia memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan harapan segala permohonan diperkenankan-Nya. Namun tidak semua doa daripada seseorang insan itu termakbul. Lantaran itu, sesetengah pihak tertanya-tanya kenapa doanya itu tidak berhasil sedangkan Allah telah berfirman:

Berdoalah kamu kepada-Ku nescaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. (Ghaafir: 60)

Disebabkan perasaan kecewa kerana tanggapan bahawa permohonannya itu seakan-akan tidak dimakbulkan, maka timbul perasaan putus asa. Sehingga ada yang meninggalkan amalan berdoa yang sebenarnya merupakan salah satu ibadah yang dimuliakan Allah. Nabi SAW bersabda:

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibanding doa”. (Riwayat Tirmidzi)
Hakikatnya, Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Adil dan Dia sentiasa mengotakan janji-janji-Nya. Namun hamba-hamba-Nya adakalanya gagal untuk memahami hikmah di sebalik segala keputusan Allah. Kita merasakan apa yang dipinta daripada-Nya itu merupakan yang terbaik untuk diri kita sedangkan Allah lebih mengetahui segala-galanya dan setiap keputusan-Nya itu memiliki hikmah yang adakalanya tidak disedari oleh seseorang insan.

Ada ketikanya apabila Allah tidak memperkenankan sesuatu permintaan hamba-Nya disebabkan kerana Allah ingin memberikan sesuatu yang lebih baik dari apa yang dipinta.

Nabi SAW bersabda: “Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah dengan sebuah doa yang tidak berisi dosa dan permintaan untuk memutuskan silaturahim
melainkan Allah akan mengurniakan kepadanya salah satu dari tiga perkara: Allah akan segera memakbulkan doanya atau Allah akan menyimpan doanya sebagai pahala di akhirat atau Allah akan menghindarkan dirinya dari keburukan semisalnya. Mereka berkata: Kalau begitu kami harus memperbanyakan berdoa. Nabi bersabda: Apa yang Allah kurniakan kepada kalian lebih banyak dari yang kalian minta”. (Riwayat Imam Ahmad)

Begitulah resam seorang insan yang selalu lupa tentang apa yang telah dikurniakan Allah yang hakikatnya lebih banyak berbanding permintaannya yang dianggapnya tidak dimakbulkan itu. Malah menerusi hadis di atas dapat kita fahami bahawa ada waktunya Allah menggantikan apa yang dipinta oleh hamba-hamba-Nya itu dengan menghindarkan diri mereka dari ditimpa kemalangan ataupun apa-apa jua bentuk musibah.



Ada ketikanya Allah menangguhkan untuk memperkenankan sesuatu permintaan dan dikurniakan sebagai ganti berupa ganjaran pahala di akhirat yang tentu sekali akan lebih memberi manfaat yang besar kepada hamba-hamba-Nya.

Insan tetap insan yang sebagaimana telah kita semua sedia maklum terbelenggu dengan pelbagai kelemahan. Kenapa tatkala merasakan Allah seperti tidak memperkenankan doa-doanya, seseorang insan itu tidak terlebih dahulu melihat kekurangan yang ada pada dirinya sendiri.

Bagaimana mungkin Allah ingin menjawab permintaannya itu sekiranya seseorang itu sentiasa bergelumang dengan perbuatan maksiat serta meninggalkan segala kewajipan yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sabda Rasulullah SAW:

“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kamu harus mengerjakan segala yang baik (makruf) dan meninggalkan segala yang keji (mungkar), atau jika tidak Allah pasti akan menurunkan seksa ke atas kalian, nanti bila kalian berdoa tidak akan dimakbulkan”. (Riwayat Tirmidzi)


Tidak dapat dinafikan kelalaian seseorang dalam menurut perintah Allah dan juga tewasnya seseorang dengan godaan hawa nafsu merupakan penyebab utama terhalangnya kurniaan kebaikan (seperti mudah termakbulnya doa) daripada Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Firman-Nya:

Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala bencana (disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka tiada sesiapapun yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkan-Nya itu, dan tidak ada sesiapapun yang dapat menolong dan melindungi mereka selain daripada-Nya. (al-Ra’du: 11)
Mana mungkin Allah SWT akan memperkenankan sesuatu permohonan jika hamba-hamba-Nya tidak mempedulikan perkara halal dan haram dari segi sumber rezeki, pemakanan dan pakaian-pakaiannya dalam kehidupan seharian. Firman Allah:

Wahai Rasul-rasul, makanlah dari benda-benda yang baik lagi halal dan
kerjakanlah amal-amal soleh; sesungguhnya Aku Maha Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan. (al-Mukminun: 51).

Dan Dia berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari benda-benda yang baik (yang halal) yang telah Kami berikan kepada kamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika betul kamu hanya beribadat kepadanya. (al-Baqarah:172).



Kemudian Baginda menyebutkan tentang seseorang yang sedang dalam perjalanan panjang, rambutnya kusut dan berdebu. Dia berdoa sambil menadahkan tangannya ke langit, dia berucap: Ya Rabbi, Ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia dikenyangkan dengan makanan yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya dimakbulkan. (Riwayat Imam Muslim)

Sikap terburu-buru sesetengah insan dalam meminta doanya agar dimakbulkan segera sehinggakan wujud perasaan putus asa apabila permintaan tersebut tidak tercapai merupakan antara faktor yang menyebabkan terhalangnya doa itu diterima oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: Akan dimakbulkan doa salah seorang di antara kamu
selagi dia tidak terburu-buru lalu dia mengatakan: Aku sudah berdoa namun
tidak dimakbulkan bagiku. (Riwayat Imam al-Bukhari)


Sewajarnya setiap insan tidak putus harapan dalam berdoa dan tetap memperbanyakkan amalan berdoa. Keyakinan bahawa Allah SWT akan memperkenankan doa hamba-hamba-Nya juga merupakan faktor yang dapat mempermudahkan termakbulnya doa.

Sekiranya doa itu diyakini sebagai ibadah maka hendaklah kita menghadapkan doa itu ikhlas hanya kepada Allah SWT tanpa sebarang perantaraan yang bertentangan dengan syarak dan tatacara berdoa itu juga hendaklah bersesuaian dengan sunah Rasulullah agar ia diterima oleh Allah SWT. Doa itu hendaklah dibaca dengan perasaan penuh rendah diri di hadapan Allah dan dengan suara yang perlahan. Firman-Nya:

Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendah diri dan (dengan suara) perlahan-lahan. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas. (al-A’raaf: 55)


Justeru, hendaklah setiap insan melazimkan diri mereka dengan berdoa. Pada masa yang sama hendaklah setiap insan itu juga berusaha untuk memperbaiki kekurangan diri dalam menurut segala perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-Nya agar ia dapat memudahkan termakbulnya doa.

InsyaAllah..Doa itu senjata orang mukmin...

Thursday, October 22, 2009

Hidup ~ menunggu waktu solat..

Jika telah menunaikan shalat Subhuh, tunggulah waktu shalat Dhuhur
Jika telah menunaikan shalat dhuhur, tunggulah waktu shalat Ashr
Jika telah menunaikan shalat Ashr, tunggulah waktu shalat Maghrib
Jika telah menunaikan shalat Maghrib, tunggulah waktu shalat Isya’
Jika telah menunaikan shalat Isya’, tunggulah waktu shalat Shubuh

Begitu seterusnya kita mengisi hidup ini. Kita bisa mengisi waktu menuggu shalat tersebut untuk melakukan berbagai aktivitas positif, seperti bekerja, istirahat, mencari ilmu, dan berbagai aktivitas bermanfaat lainnya. Jika kita jadikan itu prinsip dalam hidup kita, Insya Allah, kita tidak akan pernah ketinggalan untuk shalat berjama’ah. Jika kita jadikan diri kita untuk senantiasa merindukan waktu shalat, hati ini akan senantiasa tertambat di masjid. Dengan demikian insya Allah akan termasuk hamba yang akan dinaungi Allah di padang mahsyar nanti.





Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “Segolongan manusia yang dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari kiamat, hari yang tidak ada naungan padanya selain daripada naungan Allah; di antaranya ialah:

1.Pemerintah yang adil,
2.pemuda yang hidupnya sentiasa dalam mengerjakan ibadah kepada Tuhannya,
3.orang yang hatinya sentiasa terikat dengan masjid,
4.dua orang yang berkasih sayang karena Allah di mana kedua-duanya berkumpul dan berpisah untuk mendapat keridhaan Allah,
5.orang yang dipujuk oleh perempuan yang kaya lagi cantik untuk bersatu dengannya lalu ia menolak dengan berkata: “Aku takut kepada Allah!”,
6.orang yang bersedekah secara sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberi oleh tangan kanannya,
7.dan orang yang menyebut atau mengingat Allah dalam kondisi kesunyian, lantas mengalir air matanya.” (HR Bukhary-Muslim)

Bersegera menuju kebaikan adalah sesuatu yang dicintai Allah. Karena kita tidak mengetahui, sampai kapan Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbanyak bekal kita di akhirat nanti.Betapa kita saksikan bahwasannya diri-diri kita belum sepenuhnya menyadari jati diri kita di dunia ini. Seorang musafir. Benar, kita ini adalah musafir.

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhari)

Bukan berarti menafikan bekerja untuk dunia kita. Seorang muslim yang cerdas, adalah siapa yang lebih banyak mengingat kematian. Dengan mengingat mati, dia akan lebih banyak mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati, bekal untuk menghadap Rabb semesta alam, Allah subhanahu wata’ala.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(QS.Al-Hadid: 20)

Semoga Allah selalu menunjukkan kita ke jalan hidayahnya