Thursday, October 22, 2009

Hidup ~ menunggu waktu solat..

Jika telah menunaikan shalat Subhuh, tunggulah waktu shalat Dhuhur
Jika telah menunaikan shalat dhuhur, tunggulah waktu shalat Ashr
Jika telah menunaikan shalat Ashr, tunggulah waktu shalat Maghrib
Jika telah menunaikan shalat Maghrib, tunggulah waktu shalat Isya’
Jika telah menunaikan shalat Isya’, tunggulah waktu shalat Shubuh

Begitu seterusnya kita mengisi hidup ini. Kita bisa mengisi waktu menuggu shalat tersebut untuk melakukan berbagai aktivitas positif, seperti bekerja, istirahat, mencari ilmu, dan berbagai aktivitas bermanfaat lainnya. Jika kita jadikan itu prinsip dalam hidup kita, Insya Allah, kita tidak akan pernah ketinggalan untuk shalat berjama’ah. Jika kita jadikan diri kita untuk senantiasa merindukan waktu shalat, hati ini akan senantiasa tertambat di masjid. Dengan demikian insya Allah akan termasuk hamba yang akan dinaungi Allah di padang mahsyar nanti.





Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “Segolongan manusia yang dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari kiamat, hari yang tidak ada naungan padanya selain daripada naungan Allah; di antaranya ialah:

1.Pemerintah yang adil,
2.pemuda yang hidupnya sentiasa dalam mengerjakan ibadah kepada Tuhannya,
3.orang yang hatinya sentiasa terikat dengan masjid,
4.dua orang yang berkasih sayang karena Allah di mana kedua-duanya berkumpul dan berpisah untuk mendapat keridhaan Allah,
5.orang yang dipujuk oleh perempuan yang kaya lagi cantik untuk bersatu dengannya lalu ia menolak dengan berkata: “Aku takut kepada Allah!”,
6.orang yang bersedekah secara sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberi oleh tangan kanannya,
7.dan orang yang menyebut atau mengingat Allah dalam kondisi kesunyian, lantas mengalir air matanya.” (HR Bukhary-Muslim)

Bersegera menuju kebaikan adalah sesuatu yang dicintai Allah. Karena kita tidak mengetahui, sampai kapan Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbanyak bekal kita di akhirat nanti.Betapa kita saksikan bahwasannya diri-diri kita belum sepenuhnya menyadari jati diri kita di dunia ini. Seorang musafir. Benar, kita ini adalah musafir.

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhari)

Bukan berarti menafikan bekerja untuk dunia kita. Seorang muslim yang cerdas, adalah siapa yang lebih banyak mengingat kematian. Dengan mengingat mati, dia akan lebih banyak mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati, bekal untuk menghadap Rabb semesta alam, Allah subhanahu wata’ala.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(QS.Al-Hadid: 20)

Semoga Allah selalu menunjukkan kita ke jalan hidayahnya

1 comments:

Budak sekolah said...

Marilah ita menjaga solat. Moga2 solat akan menjaga diri kita.